R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Imbas Perang Dagang Bebas, Indonesia Bisa Apa?


Oleh: Sri Ira Wati

Tidak akan ada habisnya jika kita mendiskusikan perang dagang bebas, yang dilakukan dua negara besar secara sebagai pameran utama dalam perang dagang ini yaitu Amerika Serikat dan China. Dua negara besar yang mengakusisi kekuatan ekonomi dimana dengan rata-rata serta jumlah produk tersebar di dunia.

Awal 2018 lalu, dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, telah terkunci dalam perang dagang yang sengit. Terhitung sejak Maret 2018 hingga 20 Juni 2020, AS telah memberlakukan 11 kali penyesuaian tarif dagang. Total tarif AS yang diterapkan secara eksklusif untuk barang-barang China adalah sebesar 550 miliar dolar AS.

Sedangkan, China telah menerapkan 14 kali penyesuaian tarif dagang. Total tarif China yang diterapkan secara eksklusif untuk barang-barang AS adalah 185 miliar dolar AS. Indonesia merupakan negara dengan nominal Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terbesar ke-7. Pada 2019, nilai PDB Indonesia mencapai 40 miliar dolar AS, dan diperkirakan akan melampaui 130 miliar pada 2025.

Imbas Perang Dagang

Ada beberapa aspek dan persoalan yang memang di proyeksikan menjadi imbas dari perang dagang Amerika-China ini sendiri yang tidak hanya pada aspek ekonomi tetapi militer, kebudayaan serta aspek pendidikan juga akan menjadi sasaran empuk yang tidak bisa kita hindarkan terutama bagi negara yang memiliki kerjasama baik itu bilateral dan multilateral.

Secara empirik, Indonesia berkerjasama dengan kedua negara tersebut maka secara tidak langsung ada dampak positif dan negatif yang di alami oleh Indonesia dalam segala bidang dan kegiatan bisnis impor dan ekspor, tentu saja menjadi suatu ketidakpastian bahwa Indonesia mengalami imbas yang cukup besar dari perang dagang tersebut.

Umumnya yang terjadi bisa saja seperti demikian.

Indonesia sempat menuai dampak positif atas kondisi global itu. Salah satunya pada bidang ekspor.

Para eksportir Indonesia mendapatkan berkah tersendiri untuk meningkatkan ekspornya ke Amerika, seperti untuk memasok barang barang berbahan metal atau logam. Sebab barang asal Cina saat perang dagang yang masuk negeri Paman Sam harganya jatuh lebih mahal dan produk Indonesia pun harganya lebih kompetitif.

Para eksportir juga mendapat berkah manakala perang dagang itu membuat Cina maupun Amerika saling menerapkan bea masuk tinggi untuk komoditas ekspor negara lawannya. Bahan baku industri yang harganya murah pun sulit diperoleh keduanya hingga akhirnya memilih mencari pasokan dari negara lain termasuk Indonesia.

Adapun peluang positif lain dari perang dagang yang belakangan belum jelas kesepakatannya itu juga memungkinkan terjadinya relokasi industri dari China dan AS ke negara-negara yang tidak terlibat termasuk pengalihan ke Indonesia.

Berbeda kalau gangguannya menimpa tiga mitra dagang utama Indonesia yakni Amerika, Cina dan Jepang baru Indonesia akan mengalami gangguan perekonomian dari sisi ekspor secara signifikan.
Related Posts
Redaksi
Redaksi BerandaIDN.com

Related Posts

Posting Komentar