R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

HMI-HMI-an

Zulfata

Oleh Zulfata

HMI terkadang menjadi perhatian publik, banyak mata memandang tentangnya, ia dapat dianggap sebagai wadah pengkaderan yang aktif di seluruh wilayah di Indonesia dari dulu dan kini, terlepas saat ini arah penggkaderannya secara realitas untuk apa. Lantas apakah semua yang dikaderkan tersebut dapat disebut HMI? Atau justru menjadi HMI-HMI-an. Fokus pada kajian ini berusaha untuk menguraikan terkait HMI-HMI-an. Sebab, setelah mengetahui HMI-HMI-an, maka secara tidak langsung akan paham apa yang dimaksud dengan HMI atau ber-HMI. Secara sederhana, HMI-HMI-an adalah kebalikan dari HMI, jika HMI memiliki visi keislaman dan keindonesiaan, maka HMI-HMI-an adalah segala aktivitas perjuangan yang mengatasnamakan dirinya HMI atau seolah-olah ingin memperjuangkan visi keislaman, namun pada akhirnya topeng ke-HMI-an tersebut dijadikan sebagai penutup kemunfikan perjuangan.

Posisi HMI-HMI-an akan semakin konkret terlihat pada saat seorang kader HMI yang aktif namun pada praksisnya kader tersebut jauh dari nilai-nilai ke-HMI-an yang semestinya. Jika melihat kader HMI banyak bicara tapi kurang membaca, kemudian menjadikan simbol-simbol HMI sekedar gaya hidup, ajang adu style saat berfoto di ruang sosial, jika menemukan kader HMI berjuang namun semata-mata untuk uang, saat menemukan kader HMI yang berjuang namun cepat putus asa, jika kader HMI yang katanya berintegritas, tapi penjilat, penyembah kekuasaan, memberhalakan dirinya pada ciptaan Tuhan, dan seterusnya, serangkaian yang disebutkan ini adalah penampakan dari wujud HMI-HMI-an.

Fokusnya, HMI-HMI-an adalah suatu penyematan yang mengarah pada pelaku HMI yang mengatasnamakan narasi-narasi HMI, lincah memainkan simbol-simbol HMI dan segalanya terkait HMI, baik dari perilaku, kesadaran historis, teritorial terkait HMI yang pada akhirnya segala proses pembuktiannya apa yang dilakukan jauh dari daya perwujudan ideologi HMI itu sendiri. Barisan HMI-HMI-an ini sangat progresif bahkan memiliki kecakapan seni dalam memanipulasi HMI, baik untuk dirinya, maupun untuk di luar dirinya. Padahal HMI-HMI-an adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan di tubuh HMI, ia selalu hidup menjadi benalu perjuangan di HMI.

HMI-HMI-an dapat juga menjadi bagian proses penemuan untuk mencapai prediket HMI. Mesti sebuah kesalahan, kekeliruan, kegagalan, keterlambatan, keterpurukan, atau terlampau maju, sehingga belum dapat menyandang prediket HMI, maka saat tak mampu keluar dari tahapan tersebut secara otomatis juga dikategorikan sebagai HMI-HMI-an. Pada konteks ini dapat dipahami pula bahwa berada di posisi HMI-HMI-an bukanlah sesuatu upaya merendahkan kader sebagai manusia yang bermanfaat untuk sesama, hanya sebatas pembatas antara yang ber-HMI dengan yang mengatasnamakan HMI.

Bagi yang ber-HMI-HMI-an, berisan pergerakan ini dapat menghalalkan apa saja yang dijalaninya, ia dapat memperjualbelikan HMI, ia dapat menjadikan HMI sebagai topeng, sehingga mampu menutupi kemunafikan dirinya dan diubah menjadi seolah-olah dirinya sebagai aktivis kemanusiaan dan religius, atau seolah-olah mantan aktivis dan mantan lain sebagainya. Spririt ber-HMI-HMI-an ini senantiasa tidak hanya berlaku pada kader HMI aktif, tetapi juga mengarah pada yang mengaku-ngaku dirinya sebagai HMI dengan sengala dalil pembelaan yang dimainkannya.

Dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, pada satu titik persoalan dapat pula dikategorikan bahwa HMI-HMI-an adalah sebagai residu atau sampah demokrasi. Artinya, seiring perkaderan yang dilakukan HMI, sudah pasti ada yang memicu adanya human error, sebab praksis trial and error sudah menjadi keniscayaan berproses di HMI. Sehingga bagi siapapun yang mencermati HMI, harus mendapat kesadaran bahwa tidak semua yang ber-HMI tersebut patut disebut ber-HMI. Demikian pula sebaliknya, saat ada konsep HMI-HMI-an bukan berarti semuanya kader HMI adalah HMI-HMI-an.

Skema pergerakan kaum HMI-HMI-an semakin besar dipraktikan dalam konstelasi politik nasional, di mana partai politik mahir memanfaatkan narasi-narasi ke-HMI-an sebagai instrumen penjaringan elektoral sesuai kepentingan pihak yang bertentangan dengan ideologi HMI. Berbagai pendekatan dan ikatan sosial-emosional dapat hidup di sana ketika agenda penjaringan politik mengatasnamakan HMI. Pada posisi inilah kaum HMI-HMI-an merentang karpet merah bagi regenarasi HMI-HMI-an yang selanjutnya.

Ada sejumlah harta ingin dicapai oleh kaum HMI-HMI-an, ada sesuatu jabatan atau kekuasaan yang ingin diduduki atau diatur oleh kaum HMI-HMI-an, dan seterunya terkait ekosistem kaum HMI-HMI-an. Kekuatan HMI-HMI-an semakin menguat bukan saja ditopang oleh penyimpangan arus pergerakan kader HMI dari bawah, melainkan juga sengaja diciptakan, dikaderkan dari atas melalui struktur atau rencana politik para senior atau aktor kunci yang penulis sebut sebagai dedengkot HMI-HMI-an yang bertebaran di seluruh wilayah Indonesia.

Para dedengkot HMI-HMI-an ini diakui atau tidak akan terus berupaya untuk mengoda subjek HMI lainnya untuk ber-HMI secara HMI-HMI-an. Adu srategi internal HMI berlaku di sini, ada yang menarik agar HMI-HMI-an menjadi HMI, dan beliknya, HMI agar dapat menjadi HMI-HMI-an. Badai godaan bermain di level ini. Bagi golongan ini meyakini bahwa ber- HMI-HMI-an adalah pilihan jalan dalam ber-HMI yang strategis untuk menemukan jati diri dan ruang tempur dalam memposisikan diri pada setiap pertempuran politik. Kaum HMI-HMI-an memiliki alur pikir bahwa berpolitik itu bukan sekedar memperjuangkan aspirasi umat, melainkan untuk menjadi apa, mendapat apa, bagaimana mendapatkannya, dan kapan waktu itu tiba.

Pada jenis HMI-HMI-an yang lain, HMI tidak boleh berbicara politik. Dalam hal politik seolah-olah HMI menjadi dilema bagi sikap kadernya dalam arti bahwa pada satu sisi HMI dilarang berpolitik, sementara HMI memiliki tanggung jawab politiknya dalam mencapai visi keislaman dan keindonesiaan. Situasi sedemikianlah menjadikan HMI-HMI-an bersikap anti politik dalam pengkaderan, sehingga tidak ada komitmen kesadaran politik yang jelas dalam karakter kader HMI-HMI-an.

Kini, HMI-HMI-an bagaikan cendawan di musim hujan, ia hidup atau dihidupkan oleh para penyangga sesama HMI-HMI-an dengan tidak menyebutnya sebagai sel induk HMI-HMI-an. Diantara kaum ini ada yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah kader tim hore-hore, sorak sana-sorak sini, dukung sana-dukung seni, bergerak tidak dilandasi oleh bentalan ideologis yang telah digariskan dalam agenda ilahiah ke-HMI-an. Sungguh kader HMI-HMI-an menjadi api dalam sekam, menjadi duri dalam daging. Mereka seperti lele, suka bermain di air yang keruh sembari memarketkan islamisme meskipun aktif membunuh karakter rekan-rekannya sebagai manusia beragama Islam.

Kader HMI-HMI-an dapat bergerilya melebihi gerilya pagar betis, melebihi operasi militer, melampaui serangan refomasi orde baru. Meningkatnya kekuatan HMI-HMI-an ditandai dengan tingginya praksis pragmatisme dan hedonisme dalam tradisi berorganisasi HMI kekinian, seolah-olah HMI identik dekat dengan sosok penguasa, seolah-olah HMI identik tak berjarak dengan pemerintah, shingga ketegasan posisi HMI sebagai institusi kontrol bagi keseimbangan bangsa dan negara menjadi hilang.

Bagi kader HMI-HMI-an, tidak ada yang namanya idealisme, tidak ada yang namanya independensi. Semuanya memiliki ketergantungan dengan material, sehingga HMI-HMI-an tanpa disadari ia telah menyembah tuhan-tuhan atau berhala yang bernama kanda atau berwujud harta dan kuasa. Pada posisi ini pula, HMI-HMI-an harus dihilangkan dengan mendorong kesadaran indepensi setiap kader HMI yang merdeka dengan kesadaran tauhidnya secara universal. Sehingga kualitas manusia yang diasah melalui proses memanusiakan manusia tidak melahirkan manusia yang menuhankan manusia dan memanipulasi ayat-ayat tuhan dan memonopoli kepentingan masyarakat.

Penulis adalah provokator akal sehat yang sering masuk dalam training HMI
Related Posts
Redaksi
Redaksi BerandaIDN.com

Related Posts

Posting Komentar